Mengatur Keuangan untuk Anak (Budgeting)

Share:

Anak-anak adalah peniru yang baik. Jika orang tua ingin mengajarkan literasi keuangan pada anak, sebaiknya orang tua memulainya dari diri sendiri. Berikan contoh tentang kebiasaan finansial, mulai dari hal yang sederhana.
Postingan ini bisa dijadikan referensi budgeting untuk anak usia 8+.

1. Membayar “gaji” kepada anak-anak

Banyak orang dewasa memperoleh penghasilan tetap dari gaji mereka. Secara alami, orang dewasa membuat anggaran untuk pengeluaran tidak melebihi gaji. Orang tua dapat melakukan perilaku yang sama untuk anak-anak. Perkenalkan sistem tunjangan sehingga anak-anak bisa belajar hidup sesuai anggaran.
Alih-alih memberikan uang sedikit demi sedikit, setiap kali anak minta uang saku, beri mereka “gaji”.
Bayar uang saku mereka dalam jumlah sekaligus dan beri tahu mereka bahwa jumlah itu adalah semua uang yang akan mereka dapatkan untuk waktu tertentu, dan terserah mereka untuk mengelolanya. Jadilah orang tua yang bertanggung jawab, dengan memberi mereka nasihat tentang cara mengelola uang saku mereka, tetapi jangan memutuskan untuk mereka.
Berikan uang saku mereka secara tunai, karena lebih mudah untuk mempelajari dan mengelola sesuatu yang terlihat, seperti uang tunai.
Pada awalnya, mulailah dengan periode yang pendek. Misalnya, jika uang saku anak adalah 400 / bulan, orang tua dapat menggunakan jadwal ini:

  • Bulan 1–2 : berikan uang saku seminggu sekali (100 / minggu)
  • Bulan 3–4 : berikan uang saku setiap dua minggu sekali (200 / 2 minggu)
  • Bulan 5+ : berikan uang saku sebulan sekali (400 / bulan)

Jadi anak itu diberi waktu dua bulan untuk membiasakan diri dengan pola “gajian”, sebelum melanjutkan ke tingkat berikutnya.

2. Budgeting

Beri anak tiga toples transparan dan kosong. Tandai toples itu:

  • Tabungan
  • Jajan
  • (Opsional) Sedekah

Toples “Sedekah” adalah opsional. Beberapa agama atau budaya, atau hanya kebiasaan keluarga, mungkin menyisihkan sebagian pendapatan untuk mereka yang membutuhkan. Dalam kasus seperti itu, toples “Sedekah” dapat digunakan.
Ketiga toples itu adalah pos anggaran, di mana anak-anak hanya bisa mengambil uang dari toples tertentu untuk dibelanjakan. Gunakan toples transparan, karena anak-anak perlu melihat berapa banyak uang yang tersisa (atau ada).
Ketiga toples perlu diperlakukan secara berbeda.
Saat menerima uang jajan dalam jumlah sekaligus, mintalah anak untuk memasukkan sebagian ke dalam toples “Tabungan” terlebih dahulu. Ini untuk membangun kebiasaan uang “Bayar diri sendiri dulu”, dan tidak menghabiskan semua uang yang dimiliki anak sekaligus. Beri tahu anak-anak bahwa toples “Tabungan” ini tidak boleh digunakan, kecuali dia benar-benar membutuhkannya. Misalnya, jika anak menginginkan mainan, minta dia untuk menyimpan sebagian dari uang sakunya ke toples “Tabungan” setiap kali dia menerima uang saku, dan beli mainan itu nanti ketika toples “Tabungan” memiliki cukup uang. Beri dia pemahaman bahwa toples “Tabungan” digunakan untuk mengumpulkan uang untuk digunakan nanti. Saya sarankan setidaknya 20% masuk ke toples “Tabungan”.
Jika Anda menggunakan toples “Sedekah”, mintalah anak untuk memasukkan sebagian ke dalam toples “Sedekah”. Tergantung pada kebiasaan keluarga Anda, toples “Sedekah” juga bisa didahulukan, dan toples “Tabungan” di urutan kedua. Beri tahu anak itu bahwa toples “Sedekah” bukan untuknya. Dia tidak akan menerima imbalan dengan memasukkan uang ke dalam toples “Sedekah”, tetapi dia akan membantu orang lain yang membutuhkannya. Jadi dia harus memberikan uang dengan tulus.
Terakhir adalah toples “Jajan”. Ini harus diisi terakhir, untuk membentuk kebiasaan mengelola uang yang baik. Beri tahu anak itu bahwa toples “Jajan” adalah uang untuk membeli barang-barang yang dia suka. Tapi jangan menghabiskan semua uangnya sekaligus. Penjelasan sederhananya adalah menggunakan penganggaran harian. Jika anak itu memiliki 70 uang saku mingguan untuk toples “Jajan”, katakan padanya bahwa menghabiskan semua 70 uang di muka berarti dia tidak akan mendapatkan uang sampai minggu depan, jadi jika dia menerima uang saku pada hari Senin, dan menghabiskan semua toples “Jajan” pada hari Selasa , dia tidak akan punya uang untuk sisa minggu ini. Untuk membantunya, orang tua dapat menyimpan toples “Tabungan” dan “Sedekah”, sehingga anak tidak akan dapat mengambil uang dari dua toples lainnya. Cara lain untuk membantu anak adalah dengan mengajarinya menggunakan batas anggaran harian. Kalau jatah 70/minggu, berarti anak hanya bisa jajan paling banyak 10/hari.

Anak yang lebih tua dengan smartphone mungkin diberikan aplikasi pelacak pengeluaran (Expense tracker). Ada banyak aplikasi pelacak pengeluaran gratis untuk android / iPhone. Anak-anak yang lebih besar kemudian dapat melacak pengeluaran mereka. Langkah ini sepenuhnya opsional.

Ikuti instagram kami untuk lebih banyak keuangan untuk posting anak-anak.